Saturday, August 26, 2017

Serangan Asimetris di Tanah Pasundan

Oleh: Hendrajit*

Indonesian Free Press -- Mega proyek kota baru seperti Meikarta, LIPPO Karawaci, dan sebagainya, sejatinya merupakan jalur sejarah perlawanan sultan agung terhadap VOC Belanda ke Batavia. Jadi sesungguhnya ini adalah penghancuran budaya nusantara dan ingatan kolektif bangsa atas nama pembangunan ekonomi dan modernisasi.

Karawang dulu adalah daerah kekuasaan Pajajaran... Karawang sdh dikenal luas krn merupakan daerah perlintasan antara kekuasaan pajajaran di pakuan (bogor) dan Galuh Ciamis. Setelah pajajaran runtuh Karawang di bawah kekuasaan kerajaan SumedangLarang yang meliputi Karawang, Bekasi, purwakarta, subang.


Saat masa kekuasaan Mataram Islam... karawang menjadi kabupaten di mana bupati nya yg terkenal Raden Singaperbngsa.

Saat Sultan Agung ingin menyerang VOC di Batavia... pasukan mataram berhenti di Karawang untuk menyiapkan logistik yaitu dengan membuka persawahan. Itulah kenapa Karawang akhirnya dikenal sebgai Lumbung Padi Jawa Barat.

Bukan hanya itu, banyak tentara mataram yg tidak kembali ke mataram tetapi hidup turun temurun di Karawang. Saat penyerbuan batavia, pasukan mataram diperkuat pasukan dari priangan, madura, bali bahkan bugis.

Pasukan via laut dipimpin oleh tumenggung bahureksa sedangkan pasukan via darat dari priangan dipimpin adipati Ukur. Mereka bertemu di Karawang sebelum menyerang batavia.

Dalam kekinian... daerah bekasi cikarang karawang adalah jalur sejarah perlawanan terhadap VOC. Penduduk yg tinggal di sana dulunya adalah sisa2 prajurit gabungan mataram. Dan penduduk asli di situ sekarang adalah keturunan prajurit2 yg melawan VOC.

Kekinian Bekasi sekarang adalah pembangunan perumahan oleh Sumarecon. Cikarang ada Meikarta Lippo. Karawang ada Grand Taruma dan Taruma City nya Podomoro.***


Hendrajit, Global Review Institute, dicopas dari status Facebook-nya.

Thursday, August 17, 2017

Kanker Bukan Penyakit? (2)

Indonesian Free Press -- Salah satu kasus salah persepsi yang membuat vatal terjadi pada tahun 1940-an di Australia. Beberapa kali terjadi kasus kematian domba setelah domba-domba tersebut memakan tanaman 'fuschia' liar yang mengandung banyak enzim beta-glucosidase. Tanpa mengetahui penyebab sebenarnya dan menyangka penyebab kematian-kematian ternak itu adalah racun sianida dalam Vitamin B-17, para ahli botani kemudian mengembangkan varietas pakan ternak yang sama sekali tidak mengandung Vitamin B-17. Akibatnya, terjadi kekurangan vitamin B-17 besar-besaran dalam makanan kita.

Sebagai gambaran pentingnya Vitamin B-17 di dalam makanan bisa dijelaskan dengan kesehatan orang-orang eskimo di kutub utara. Meski makanan utama mereka adalah daging dan relatif jarang mengkonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan, mereka hampir tidak mengenal penyakit kanker dan jantung. Ternyata penyebabnya adalah daging yang mereka konsumsi, umumnya daging rusa kutub, ternyata banyak mengandung Vitamin B-17 yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang dimakan rusa. Orang eskimo juga mengkonsumsi buah cherry yang banyak mengandung Vitamin B-17, meski hanya tumbuh dalam musim tertentu dalam setahun.


Saat ini makanan 'modern' yang dikonsumsi orang-orang Eropa, Amerika dan Australia rata-rata hanya mengandung 2 miligram Vitamin B-17, sementara orang-orang Eskimo mengkonsumsi 250 hingga 3.000 miligram Vitamin B-17 setiap hari. Inilah yang menjelaskan mengapa penderita angka penyakit kanker orang-orang Eskimo sangat kecil, sementara angkanya di dunia 'modern' justru tinggi.

Di masa lalu, dan ketika penyakit kanker hampir belum dikenal, orang-orang Barat mengkonsumsi roti yang terbuat dari gandum yang kaya dengan Vitamin B-17. Mereka juga mengkonsumsi buah-buahan plum, greengages, cherri, apel, aprikot dan buah-buahan lain dari keluarga Rosaceae yang kaya Vitamin B-17. Ibu-ibu menghancurkan biji-bijian dari buah-buahan itu dan mencampurkannya dengan selai dan menyimpannya sebagai makanan cadangan. Semuanya itu kaya dengan Vitamin B-17. Sedangkan di daerah Tropis seperti Indonesia, vitamin B-17 banyak terkandung di ubi kayu (cassava atau tropical manioc). Penelitian membuktikan bahwa suku-suku Indian di Amerika Selatan atau suku-suku pedalaman di Filipina yang menjadikan ubi kayu sebagai sumber makanan utamanya, hampir tidak mengenal penyakit kanker dan jantung.

Sehubungan dengan Vitamin B-17 dan kaitannya dengan penyakit kanker, Dr. Krebs berpendapat lebih jauh lagi. Ia berpendapat bahwa keberadaan vitamin B-17 yang cukup di dalam tubuh, sudah cukup untuk membuat tubuh kebal terhadap ancaman kanker. Bahkan ketika lingkungan dan makanan sudah dipenuhi dengan faktor-faktor penyebab kanker sekalipun.

Menurut Dr. Krebs apa yang disebut dengan 'carcinogens' hanyalah bentuk kekurangan Vitamin B-17 dengan dampak yang membahayakan. Hal itu sama dengan kekurangan Vitamin C yang menimbulkan sariawan dan kurap. Dalam waktu singkat, bahkan dalam hitungan waktu jam, penyakit sariawan pun sembuh setelah sejumlah besar vitamin C dimasukkan ke dalam tubuh.

Namun karena kampanye negatif tentang Vitamin B-17 Laetrile dan sulitnya mendapatkan Vitamin B-17 alami membuat banyak penderita kanker menjadikan substansi ini sebagai cadangan terakhir, jauh setelah penyakit telah sangat parah akibat pembakaran radiasi atau setelah racun 'chemotherapy' merusak sel-sel tubuh yang sehat.(ca)

Tuesday, August 15, 2017

Kanker Bukan Penyakit?

Indonesian Free Press -- Di jaman modern seperti sekarang ini, kanker merupakan penyakit pembunuh manusia terbesar di dunia setelah jantung. Padahal, di masa lalu kanker bahkan relatif tidak dikenal karena jarangnya. Para ahli sepakat bahwa lingkungan yang tercemar, polusi, makanan dan minuman buatan berbahan kimia merupakan faktor-faktor yang memicu munculnya penyakit kanker. Namun, ada faktor lain yang lebih penting dari itu semua, yaitu kekurangan vitamin B-17.

Demikianlah hasil temuan Dr. Ernst T. Krebs, Jr tahun 1950, ketika ia berhasil menemukan turunan Vitamin B-17 dan disebut sebagai 'Laetrile'. Dari penelitian intensif yang dilakukannya terbukti zat ini memiliki kemampuan tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.

Sebelumnya, saya ingin menceritakan tentang pengalaman yang dialami abang ipar saya yang bekerja di McDermott, perusahaan asing fabrikasi peralatan pengeboran minyak lepas pantai di Batam. Diduga karena kelelahan dan kurang istirahat, ditambah selalu menghirup udara yang terkontaminasi oleh debu-debu logam yang ditimbulkan oleh aktifitas produksi perusahaan, ia menderita penyakit hati dan telah divonis dokter harus menjalani terapi kemo di Malaysia.


Kebetulan abang ipar saya yang lain di Medan memiliki keahlian pengobatan herbal dan bekerja sambilan sebagai tabib. Olehnya disarankan agar abang saya di Batam, sebut saja namanya Ucok, dirawat sendiri di Medan. Setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya dokter yang merawatnya di Batam mengijinkan Bang Ucok dirawat sendiri.

Selama dirawat di Medan, Bang Ucok menjalani diet ketat. Setiap hari ia harus minum ramuan obat herbal yang tidak saya ketahui bahan-bahannya. Namun saya tahu beberapa di antara obat-obatan itu, yaitu madu dan pil ekstrak teripang.

Alhamdulillah, hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, penyakit kanker hati telah menghilang dan kini ia telah kembali bekerja seperti semula. Padahal baru beberapa bulan sebelumnya, rekan kerjanya mengalami masalah yang sama. Namun setelah menjalani terapi kemo di Penang, Malaysia, justru meninggal dunia. Dan pada saat yang hampir sama ketika Bang Ucok mengalami kesembuhan, media-media massa ramai mengabarkan dua selebritis nasional, Yana Zein dan Julia Perez, meninggal dunia setelah menjalani terapi kemo yang sangat mahal di luar negeri.

Kembali ke topik tentang Vitamin B-17 Laetrile, setelah Dr Krebs menemukan obat ajaib ini, industri farmasi yang tidak mendapatkan hak patennya berusaha mendiskreditkan penemuan tersebut dengan menyebar mitos bahaya racun sianida yang terkandung di dalam vitamin ini. Salah satu upaya untuk mematikan Laetrile adalah dengan menyebarkan kabar hoax tentang kematian sepasang suami istri akibat mengkonsumsi biji aprikot. Padahal selama ribuan tahun jutaan manusia telah mengkonsumsi biji aprikot dan tidak ada masalah.

B17 Laetrile temuan Dr Krebs adalah turunan dari biji apricot yang disintetiskan ke bentuk 'crystalline' dengan menggunakan caranya yang unik. Kampanye negatif melalui media massa dan para ahli yang dibayar serta otoritas yang terkontaminasi (American Food & Drug Administration dan American Medical Association) membuat obat ajaib itu dilarang di Amerika dan menyusul negara-negara lainnya. Pada saat yang sama mereka mengabaikan fakta bahwa vitamin lainnya yang banyak beredar di masyarakat, B-12, juga mengandung sianida. Mafia industri farmasi dan kesehatan global juga mendorong digunakannya metode pengobatan yang justru jelas-jelas sangat destruktif terhadap sel-sel tubuh manusia, yaitu terapi kemo.


Bagaimana Vitamin B-17 Membunuh Kanker?

Dr. Ernst Krebs telah membuktikan bahwa sianida dalam vitamin B17 sama sekali tidak berbahaya bagi manusia dengan menyuntikkan sejumlah besar Laetrile ke tangannya dan ia tetap hidup selama puluhan tahun kemudian (meninggal secara wajar pada September 1996).

Hal ini bisa dijelaskan secara rasional. Molekul B-17 mengandung satu unit sianida (cyanide), satu unit benzaldehyde dan dua unit glucose (gula) yang terikat dengan kuat. Sianida di dalamnya baru akan bersifat racun setelah dilepaskan dari ikatan molekul. Masalanya, hal ini hanya bisa dilakukan dengan mencampurkan enzim bernama beta-glucosidase yang nyaris tidak dimiliki oleh tubuh manusia kecuali dalam jumlah sedikit, namun melimpah di dalam sel-sel kanker.

Ketika B-17 berada di dalam sel kanker, molekulnya langsung terpecah dan menimbulkan dampak yang menghancurkan sel kanker. Selain sianida yang meracuni dan membunuh sel kanker, benzaldehyde juga memberikan dampak yang tidak kalah hebat. Bersama sianida, keduanya memiliki sifat racun hingga 100 kali lipat dibandingkan ketika masih terikat dalam satu molekul B-17, dan seketika membunuhi sel-sel kanker.

Lalu bagaimana dampaknya racun berbahaya itu terhadap tubuh manusia sendiri.

Syukurnya tubuh manusia memiliki enzim lainnya yang bisa menetralisir racun sianida dan benzaldehyde tersebut, yaitu rhodanese, yang jumlahnya secara alami lebih dari cukup untuk mengikat racun yang terlepas dan mengubahnya menjadi enzim yang bermanfaat. Sebaliknya, sel kanker tidak memiliki enzim rhodanese sama sekali sehingga tidak memiliki senjata untuk melawan vitamin B-17.

Sejak puluhan tahun yang lalu para ahli pertanian telah mengetahui dampak negatif dari kemampuan enzim beta-glucosidase melepaskan ikatan sianida dari molekul Vitamin B-17 terhadap binatang ternak. Namun tidak diketahui bagaimana cara menanganinya tanpa menimbulkan kerugian. Sebagai jalan pintas, semua tanaman yang mengandung B-17 dikategorikan sebagai 'beracun'. Selanjutnya dilakukan upaya genetis untuk menghilangkan sama sekali kandungan molekul tersebut.***


(Bersambung)

Friday, August 11, 2017

Antara Gibran Rakabuning dan Aryo Penangsang

Indonesian Free Press -- Pertemuan antara putra mantan Presiden SBY, Agus Yudhoyono, dengan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuning baru-baru ini menjadi sesuatu yang 'viral' di media sosial. Mayoritas menyoroti apa yang dilakukan Gibran dalam pertemuan itu, mulai dari sikapnya yang 'pongah' hingga gaya pakaiannya yang 'nyleneh'.

Namun ada sesuatu yang menarik menurut pengamatan Indonesian Free Press, yaitu aspek sejarah politik Indonesia.

Bagi mereka yang memahami ilmu psikologi, kharakter 'luar' seseorang biasanya berkebalikan dengan kharakter sebenarnya dari orang itu. Untuk menutupi kelemahannya, seseorang akan menampilkan citra yang berkebalikan dengan kharakter sebenarnya. Seseorang yang alam bawah sadarnya menderita sindrom inferior biasanya akan berwatak diktator, meski ia menutupinya dengan sikap 'merakyat', sopan dan terbuka.


Presiden Jokowi sedikit banyak sama dengan kharakter tersebut di atas. Ada benarnya juga bahwa mantan Presiden SBY, dalam pertemuan dengan Prabowo baru-baru ini, secara tersirat menuduh Jokowi sebagai diktator. Dan cepatnya Jokowi merespons tuduhan itu, justru memperkuat tuduhan SBY, karena salah satu ciri penderita sindrom inferior adalah sensitif dan mudah tersinggung.

Lalu, apa kaitannya dengan pertemuan Gibran Rakabuning dengan Agus Yudhoyono? Baiklah, akan saya jelaskan. Tapi sebelumnya mari kita kembali ke masa silam.

Paska meninggalnya Raja Demak Sultan Trenggono pada tahun 1546 terjadi kevakuman kekuasaan di Kesultanan Demak yang kala itu adalah penguasa Pulau Jawa dan kerajaan terkuat di Nusantara. Kekuasaanpun kemudian diperebutkan oleh dua orang tokoh yang paling berpengaruh, yaitu Hadiwijoyo (dikenal dengan julukan Joko Tingkir) dan Aryo Penangsang. Hadiwijoyo adalah menantu Sultan Trenggono, sedangkan Aryo Penangsang adalah keponakan Sultan Trenggono.

Sebagaimana ditulis di berbagai buku sejarah, Hadiwijoyo adalah pribadi yang tenang, sementara Penangsang adalah pribadi yang kasar dan temperamental. Ketika akhirnya perebutan kekuasaan antara Hadiwijoyo dengan Penangsang tidak bisa diselesaikan kecuali dengan perang, maka di sinilah terjadi peristiwa yang menarik.

Atas ide Ki Ageng Pemanahan, seorang penguasa wilayah Mentaok (sekarang sekitar Kota Gede, di sebelah timur kota Yogyakarta) yang juga bawahan Hadiwijoyo, Aryo Penangsang yang berkuasa di Jipang (sekarang wilayah Cepu, Jawa Tengah) akan diprovokasi untuk melakukan perang tanding dalam kondisi yang tidak menguntungkannya, sehingga ia yang terkenal sakti itu bisa dikalahkan.

Idenya adalah mengumpankan Sutowijoyo, putra Ki Ageng Pemanahan yang masih muda belia, untuk memancing Aryo Penangsang menyeberangi Sungai Serang yang merupakan batas wilayah Demak dengan Jipang. Kemudian, setelah berada di seberang Sungai, para Sutowijoyo dan para prajurit Demak akan membunuhnya.

Ki Ageng Pemanahan mengetahui, menyeberangi Sungai Serang akan membuat sial Penangsang karena itu berarti ia telah melanggar petuah gurunya, Sunan Kudus, seorang wali terkenal yang tinggal di kota Kudus dan dikenal sebagai salah seorang 'Wali Songo'. Kemudian, untuk membuat konsentrasi Penangsang terpecah, Sutowijoyo akan menunggangi kuda betina yang 'cantik' untuk menggoda kuda jantan yang ditunggangi Penangsang, yang terkenal dengan julukan 'Gagak Rimang'.

Sutowijoyo sendiri dipilih, selain karena ia adalah seorang remaja yang fisiknya kuat, juga untuk memancing kemarahan Penangsang sehingga konsentrasinya terganggu. Ditantang duel oleh seorang remaja tanggung tentu akan membuat Penangsang tersinggung dan marah.

Dan begitulah yang terjadi. Diejek oleh Sutowijoyo sebagai pengecut, Penangsang melompat dan menyeberangi Sungai Serang. Namun, ketika mengejar Sutowijoyo, kudanya menjadi binal dan tidak bisa dikendalikan. Pada saat pikirannya terpecah oleh ulah kudanya, Sutowijoyo menotokkan tombaknya ke perut Penangsang hingga terluka parah. Penangsang masih mampu bertahan dan tetap mengejar Sutowijoyo dengan ususnya yang terburai disangkutkan di kerisnya. Nyawanya baru tercabut setelah ia dengan gegabah mengangkat kerisnya untuk menikam Sutowijoyo yang berhasil ditangkapnya. Tanpa disadari, keris itu memotong ususnya, sekaligus mencabut nyawanya setelah sebelumnya ia banyak kehilangan darah.

Sebagai 'master of strategy', SBY tentu mengetahui kharakter Jokowi dan putranya, Gibran, yang pongah. Bertemu putra mantan Presiden dan tokoh yang secara umum dipandang sebagai oposan Jokowi, Gibran pasti akan minder, 'salah tingkah' dan bersikap pongah. Maka terjadilah apa yang direncanakan SBY dengan mengirimkan Agus Yodhoyono. Tingkah polah Gibran yang viral di media sosial menjadi kuda 'Gagak Rimang' bagi Jokowi, khususnya berkaitan dengan prospek Pilpres 2019 mendatang dimana Jokowi hampir dipastikan bakal maju kembali sebagai capres. Adapun bagi Agus Yudhoyono, ia laksana Sutowijoyo.(ca)

Monday, August 7, 2017

Bahkan Patung Jenderal Besar Angkatan Bersenjata RI Pertama Bapak Soedirman Setinggi 15 Meter Lebih Ini Sudah Kami Produksi Dengan Bahan Baku Logam, Tapi Kecewa Kami Keluarga Besar Dan Keluarga Yayasan Jenderal Soedirman Mendapatkan Kesulitan Ketika Ingin Menyumbangkan Patung Ini Menjadi Taman Tugu Yang Megah Untuk Indonesia, Lokasi Saja Kami Sulit Dapatkan Apalagi Kami Harus Mengajukan Anggaran Bantuan Jelas Tidak Mungkin, Kami Hanya Ingin Patung Dan Taman Peringatan Bahwa Kami Bangsa Indonesia Angkatan Bersenjata Tentara Nasional Indonesia Memiliki Tokoh Pahlawan Nasional Jenderal Besar Angkatan Bersenjata RI Pertama Yang Tangguh Agung Dan Layak Dibanggakan Bangsa Indonesia Bahkan Dunia.

Pesan Yang Kami Usung Tentulah Kami Indonesia Yang Unggul Untuk Indonesia Yang Berdaulat, Kami Membutuhkan Dukungan Semua Pihak Terutama TNI Dibawah Komando Panglima TNI Kita Saat Ini, Salam Komando MERDEKA !!!


Keterangan: dicopas dari status Facebook Darianto.

Sunday, July 30, 2017

Inggris Kirim Kapal Induk Terbaru ke Laut Cina

Indonesian Free Press -- Entah pikiran apa yang ada pada para pejabat Inggris dengan ide mengirimkan kapal induk terbarunya ke Laut Cina untuk memprovokasi Cina yang tengah terlibat konflik dengan Amerika. Mereka seolah lupa dengan sejarah pahit bangsa Inggris setelah kehilangan dua kapal perangnya dalam Perang Pasifik, 8 Desember 1941.

Seperti dilansir The Telegraph, 27 Juli, Inggris bermaksud akan mengirimkan dua kapal induk terbarunya, HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales, ke Laut Cina Selatan untuk melakukan operasi laut 'Freedom of Navigation' melawan klaim Cina atas sejumlah wilayah di wilayah itu. Hal ini diungkapkan oleh Menlu Boris Johnson, Kamis (27 Juli).


"Hal pertama yang akan kami lakukan dengan dua kapal induk terbaru yang baru saja kami bangun adalah mengirimnya melakukan operasi 'freedom of navigation' di wilayah ini (Laut Cina Selatan)," kata Johnson kepada wartawan di Sydney usai bertemu mitranya, Menlu Australia Julie Bishop.

Laut Cina Selatan adalah salah satu jalur laut paling ramai di dunia, menyalurkan $5 triliun perdagangan dunia setiap tahun. Cina mengklaim sebagai pemilik sebagian besar wilayah Laut Cina berdasarkan sejarah Cina, sekaligus menabrak klaim sejumlah negara tetangganya atas sejumlah wilayah di Laut Cina.

Untuk memperkuat klaimnya, Cina telah membangun fasilitas sipil dan militer di sejumlah pulau yang diklaimnya itu. Namun, tahun lalu Pengadilan Internasional The Hague menolak klaim Cina.

Sebagai bentuk penolakan atas klaim Cina, Amerika telah berkali-kali melakukan operasi 'freedom of navigation' di dekat pulau-pulau yang diklaim Cina. Sejak dipimpin Presiden Trump, Amerika telah dua kali melakukan operasi tersebut, yang oleh Cina dikecam sebagai tindakan provokatif yang berbahaya.

Selanjutnya, saat berbicara di hadapan ratusan pengusaha dan politisi Australia di Sydney, Johnson kembali mengatakan hal yang sama.

“Dan kami berjanji akan melakukan misi ini (mengirim kapal induk ke Laut Cina Selatan), bukan karena kini memiliki musuh di kawasan, melainkan karena kita ingin menegakkan hukum," katanya.

HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales adalah dua kapal induk kembar berbobot 65.000 ton, kapal terbesar yang pernah dibuat INggris. Keduanya baru menjalani tahap ujicoba dan pada akhir tahun ini diharapkan sudah resmi beroperasi.

Pada 8 Desember 1941 Inggris kehilangan sebuah kapal perang (battleship) dan sebuah kapal jelajah (heavy cruiser) setelah dibom oleh pesawat-pesawat pembom Jepang. Ini adalah pertama kalinya kapal perang besar (capital ship) tenggelam oleh serangan pesawat pembom saat tengah berlayar dalam misi militer.

Yang menarik adalah, salah satu kapal perang Inggris yang tengelam itu bernama sama dengan kapal induk Inggris yang bakal dikirim ke Laut Cina Selatan, yaitu battleship HMS Prince of Wales. Lokasi tenggelamnya kapal perang itu pun sama dengan wilayah konflik, yaitu Laut Cina Selatan.(ca)

Saturday, July 29, 2017

Siapakah Sang Pejuang berdirinya NKRI.....?

Oleh: Purnomosidi Ipung

Indonesian Free Press -- Siapakah Sang Pejuang berdirinya NKRI.....?

Umumnya teman teman yang sangat demen dengan slogan ; "NKRI HARGA MATI", tidak mengetahui siapa sesungguhnya penggagas ide lahirnya NKRI itu ?

Jika ditanya kapan NKRI diproklamirkan pasti banyak yang tidak tahu juga.

Bahkan jika disebutkan bahwa lahirnya NKRI atas jasa tokoh Islam...... jangan jangan malah ada yang tiba tiba strooke saking kagetnya.

Karena tidak tahu sejarah dan hanya latah saja, seringkali mereka terjebak pada dikotomi NKRI diperhadapkan dengan Islam.


Seakan akan Islam anti NKRI.

Seolah olah NKRI itu bukan "hasil keringat" umat Islam.
Ayo bacalah sejarah.

1. Negara Republik Indonesia (NRI) tanpa K (Kesatuan) diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.

2. Sejak perundingan Linggar Jati (1946-1950) Indonesia menjadi negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS). Negara Indonesia menjadi salah satu bagian dari negara RIS dan beribukota di Jogjakarta. Bung Karno menjadi Presiden RIS dan Presiden Indonesia dijabat oleh Mr. Assaat.

3. Mohammad Natsir, sebagai Ketua Fraksi Masyumi di Parlemen RIS, lah yang menggagas untuk mengakhiri RIS dan kembali bersatu dalam negara Indonesia. Gagasan Natsir mendapat sambutan baik dari tokoh tokoh politik di parlemen, para pemimpin negara RIS serta kalangan aktivis. Natsir menuangkan gagasan nya dalam sidang parlemen yang kemudian dikenal dengan sebutan "Mosi Integral Natsir".

4. Menindaklanjuti gagasan Natsir, tanggal 15 Agustus 1950, Bung Karno bersama para pemimpin negara negara RIS bersepakat untuk mengakhiri negara serikat dan bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momentum ini oleh sebagian sejarahwan diakui sebagai momentum Lahirnya NKRI.

5. Tanggal 17 Agustus 1950 diproklamirkanlah NKRI dengan menetapkan Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden NKRI.

6. Atas jasanya memperjuangkan NKRI maka Presiden Soekarno mengangkat M. Natsir menjadi Perdana Menteri untuk memimpin kabinet yang pertama di NKRI. Sejak Indonesia merdeka baru pertama kali ini kabinet dipimpin oleh Tokoh Islam dari Partai Islam Masyumi.

7. Perjuangan M. Natsir menjadi sangat bersejarah dengan bergabungnya Irian Barat menjadi bagian dari NKRI.
Jadi......

Kalau masih ada yang menganggap Islam sebagai ancaman bagi NKRI berarti dia buta sejarah, ahistoris. ***

Tuesday, July 4, 2017

Old World Order yang Bangkit Menantang New World Order

Indonesian Free Press -- Blogger masih belum bisa memastikan bahwa antara Orde Dunia Baru (New World Order/NWO) dan Orde Dunia Lama (Old World Order/ODO) benar-benar terjadi dikotomi yang nyata atau sekedar kamuflase untuk menyembunyikan kekuasaan sebenarnya para penguasa dunia di balik layar. Namun, faktanya dunia tengah mengalami pergulatan antara kedua orde tersebut secara intensif.

Benua Eropa menjadi ajang pergulatan tersebut, yang berlangsung sangat sengit setelah NWO berusaha melemahkan negara-negara Eropa (untuk membuat mereka tetap sebagai jajahan, setelah mulai munculnya kesadaran publik akibat keberadaan internet) dengan menggelontorkan jutaan imigran dari Afrika dan Timur Tengah, di bagian Eropa timur yang mayoritas warganya adalah etnis Slavia-Rusia yang beragama Kristen Orthodok, terjadi aksi-aksi menentang keberadaan agen utama NWO George Soros dan kebijakan pro-imigrasi yang dikampanyekannya.

Di Macedonia, misalnya, muncul gerakan Stop Operation Soros (SOS). Gerakan ini menyerang lebih dari 70 organisasi bentukan Soros di negara itu. Tidak berhenti di sini, para pemimpin SOS menyerukan masyarakat di seluruh dunia untuk melawan 'melawan monopoli kebenaran di sektor publik yang selama ini dimonopoli oleh George Soros.

Semangat anti Uni Eropa (New World Order) oleh Old World Order juga muncul secara massif di Serbia, Yunani, dan Albania.

Di Hongaria, negara kelahiran George Soros, gerakan anti-Soros dan kebijakan pro-imigrasi yang didorong oleh Uni Eropa bahkan dipimpin langsung oleh Perdana Menteri negara itu, Viktor Orban. Dalam sebuah acara di Budapest akhir bulan Juni lalu, Orban kembali mengecam proyek multikulturalisme Eropa yang digagas George Soros dan didukung Uni Eropa. Ia kembali menyerukan dilakukannya penguatan penjagaan perbatasan dari gelombang imigrasi, penerapan kebijakan 'tidak ada toleransi' pada para imigran ilegal, dan penguatan 'kebudayaan Kristen Eropa'.

Sudah barang tentu ia juga mengecam Uni Eropa dan George Soros atas proyek multikulturalisme Eropa dan menyebutnya sebagai 'kegagalan nyata'.

Dalam referendum yang digelar tahun lalu sebanyak 98% warga Hongaria menolak kebijakan keterbukaan imigrasi yang dikampanyekan Uni Eropa.

"Tidak ada yang boleh memerintah sebuah negara berdaulat tentang siapa yang bisa tinggal di negara tersebut, ini sepenuhnya adalah kebijakan nasional kita," kata Orban, menyindir Uni Eropa yang mendesak Hungaria untuk menerima 'quota' imigrasi yang ditetapkan organisasi negara-negara Eropa itu. 

"Ada konsensus yang nyaris bulat bahwa kemerdekaan ekonomi dan kebijakan imigrasi kita harus dilindungi dari campur tangan Brussels (Uni Eropa),” katanya.

Avi Gleitzer, blogger terkenal asal Israel, baru-baru ini menulis tentang fenomena pergulatan antara NWO dengan OWO ini, setelah melihat konflik di Suriah. "Orang tidak akan bisa mengerti peristiwa-peristiwa geopolitikal saat ini tanpa memahami pandangan-pandangan saya ini," tulis Avi Gleitzer seperti dikutip blog  DR. Henry Makow.

Menurutnya, NWO (New World Order) meliputi Inggris dan negara-negara bekas jajahan Inggris (British Commonwealth, Anglo Saxons termasuk Amerika), Israel dan para bankir yahudi, negara-negara Arab Sunni, dan beberapa negara sekutu Barat seperti Polandia, Jepang, dan Korsel. Sedangkan OWO (Old World Order) mencakup Rusia dan sekutu-sekutunya Cina, Iran, Turki, negara-negara Amerika Latin (Bolivia, Venezuela), komunitas Shiah, gereja Orthodok dan sebagian penganut Katholik.

Kekuatan NWO dibentuk oleh 'kekuatan uang' orang-orang yahudi Jerman dan dilindungi oleh angkatan laut Inggris dan kemudian oleh Amerika. Setelah memicu mendorong gerakan 'Reformasi' yang memicu perpecahan Eropa berdasarkan keyakinan Protestan-Katholik disusul kemudian kemunculan negara-negara Republik menggantikan negara-negara kerajaan, NWO eksis pada pergantian Abad 19 ke 20 dan semakin kuat paska Perang Dunia II.

Napoleon Bonaparte berusaha menggagalkan solidikasi NWO dengan memerangi Inggris dan negara-negara Eropa yang telah terafiliasi NWO, namun gagal.

Menurut Gleitzer, meski sukses menguasai dunia, sejumlah proyek NWO juga mengalami kegagalan. Nazisme-Hitler adalah keberhasilan besar mereka, namun di Rusia mereka gagal mengendalikan komunisme sehingga akhirnya, terutama di bawah Vladimir Putin, Rusia muncul sebagai kekuatan utama OWO yang melawan NWO.

"Rusia menjadi independen, kembali ke Kekristenan (Orthodok) dan meraih kembali kekuatan militernya semasa Uni Sovyet," tulis Gleitzer.

"Sementara itu, sejumlah negara Eropa menolak untuk tergantung kepada Anglo-Saxon NWO dan menggunakan semangat Rusia sebagai dasarnya untuk mulai memisahkan diri dari NWO (Uni Eropa). Itulah yang kita saksikan saat ini. Brexit adalah sebuah upaya Anglo-Saxons untuk meraih kembali kekuasaan. Pemilihan Trump adalah upaya mereka lainnya Anglo-Saxon untuk melawan OWO, namun juga gagal," tambah Gleitzer.

Diperkirakan tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, konflik antara NWO dan OWO akan semakin intensif, khususnya pada ulang tahun ke-100 Deklarasi Balfour yang menjadi dasar pembentukan negara Israel. Selain itu NMO juga tidak akan bisa membiarkan Rusia dan OWO semakin kuat setelah keberhasilan mereka mengalahkan NWO di Suriah. Demikian analisa Avi Gleitzer.(ca)

Friday, June 16, 2017

Bukti-Bukti Keberadaan Manusia Raksasa Sengaja Dihancurkan

Indonesian Free Press -- Kabar tentang keberadaan manusia raksasa sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Kitab-kitab suci, buku-buku kuno, mitos dan legenda-legenda masyarakat di berbagai negara banyak menyebutkan keberadaan mereka.

Dalam Kitab Ramayana yang diimani oleh orang-orang Hindu terdapat bangsa raksasa yang dipimpin oleh raja bernama Rahwana, mereka tinggal di negeri di seberang lautan.

Dalam kitab Perjanjian Lama yang diimani oleh orang-orang Kristen dan Yahudi ada sosok manusia-manusia raksasa yang disebut 'Nephilim', 'Goliath', 'Og King of Bashan', dan 'Anakim'. Dalam Injil Terjemahan King James disebutkan bahwa tinggi 'Goliath' mencapai 2,75 meter.

Sejarahwan Yahudi yang bekerja untuk Romawi, Flavius Josephus, dalam bukunya yang terkenal "Antiquities of the Jews" yang ditulis tahun 93 M, menyebutkan tentang manusia-manusia raksasa 'Amorites' yang tinggal di Hebron:


"Karena alasan tertentu mereka pindah ke Hebron; dan ketika mereka berhasil merebut kota ini, mereka membantai seluruh penduduk (Hebron). Pada saat itu tinggallah manusia-manusia raksasa yang memiliki tubuh sangat besar dan bentuknya sama sekali berbeda dengan manusia umumnya, sehingga mengejutkan siapa pun yang melihatnya dan menakutkan siapapun yang mendengar suaranya. Kerangka manusia-manusia raksasa ini masih banyak ditemukan pada saat ini."

Dalam Al Qur'an juga disebutkan tentang keberadaan manusia raksasa:

“Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang Jabbarin (orang-orang yang berbadan besar), sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”(QS. Al-Maidah: 22)

Para ulama juga percaya bahwa Kaum Ad' yang disebut-sebut dalam Al Qur'an adalah orang-orang yang berbadan raksasa.

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad' (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri lain." (QS: Al Fajr 89: 6-8)

Al Qur'an juga menyebut tentang manusia raksasa bernama Jalut, yang mati setelah diketapel oleh Daud. Kemungkinan, Jalut ini adalah bangsa 'Amorites' seperti disebutkan oleh Flavius Josephus. (Josephus, Antiquities of the Jews, Book 5, Chapter 2, Number 3, Antiquities of the Jews: Book 5, Retrieved: 15 March 2013).

Banyak temuan arkeologis juga menunjukkan hal yang sama. Namun, ada upaya sistematis untuk menghancurkan bukti-bukti keberadaan manusia raksasa itu demi mendukung 'cerita' yang dipromosikan sebagai satu-satunya kebenaran asal-muasal manusia di muka bumi, yaitu 'teori evolusi' yang baru muncul pada abad 19.

Sebagaimana dilaporkan oleh sejumlah media independen termasuk situs The World News Daily Report pada 13 Juni lalu, Mahkamah Agung Amerika (Supreme Court) telah memerintahkan  Smithsonian Institution, sebuah organisasi gabungan pusat-pusat penelitian arkeologi dan museum ternama, untuk membuka kembali laporan-laporan penelitian mereka sejak awal tahun 1900-an, untuk membuktikan bahwa kelompok ini tidak melakukan 'cover up' atau upaya menutup-nutupi bukti-bukti tentang keberadaan manusia raksasa.

Menurut laporan tersebut Smithsonian Institution diduga kuat telah menghancurkan ribuan tengkorak manusia raksasa yang ditemukan di seluruh Amerika sejak awal tahun 1900-an demi mendukung teori 'mainstream' evolusi manusia.

Dugaan tersebut dikemukakan oleh kelompok American Institution of Alternative Archeology (AIAA), yang oleh Smithsonian Institution diberikan respon dengan menuntut AIAA atas tuduhan 'defamation' terhadap organisasi yang telah eksis selama 168 tahun itu.

Selama proses persidangan, demikian laporan The World News Daily Report, terungkap sejumlah kesaksian dari sejumlah 'mantan orang dalam' Smithsonian Institution yang mengakui memiliki bukti-bukti kuat bahwa lembaga itu telah menghancurkan puluhan ribu tengkoran manusia raksasa yang tingginya berkisar antara 6 kaki (1,8 meter) sampai 12 kaki (3,6 meter).

Para arkheolog 'mainstream', termasuk dari Smithsonian Institution, mengatakan bahwa Amerika pertama kali dihuni oleh manusia yang datang dari Asia (Indian) melalui Selat Bering, sekitar 15.000 tahun yang lalu. Meski faktanya adalah ditemukan juga adanya kuburan-kuburan kuno berisi kerangka raksasa dengan benda-benda logam yang umurnya jauh lebih tua dan diakui oleh para Indian telah ada sebelum kedatangan nenek moyang mereka.

Pada tahun 2011 para peneliti American Association for Alternative Archeology (AAIA) menemukan tulang femur (tulang paha) berukuran 1,3 meter. Inilah yang menjadi bukti kuat tuntutan (AAIA).

Namun yang menarik adalah temuan tersebut bukan berasal dari proses penggalian, melainkan dari gudang simpanan Smithsonian Institute sendiri. Ya, tulang raksasa itu adalah hasil curian yang dilakukan oleh kurator organisasi itu sendiri pada tahun 1930-an. Oleh kurator itu, tulang tersebut disimpannya sepanjang hidup, dan kemudian membukanya melalui pengakuan tertulis menjelang kematiannya.

"Ini adalah hal yang sangat buruk yang dilakukan terhadap rakyat Amerika. Kami telah menyembunyikan kebenaran tentang nenek moyang manusia, para pendahulu kita, para raksasa yang berkeliaran di muka bumi seperti disebutkan dalam Kitab Injil dan kitab-kitab kuno di seluruh dunia," demikian bunyi sebagian pesan tersebut.

Menurut laporan itu, dokumen-dokumen tentang manusia raksasa yang disembunyikan Smithsonian Institution itu harus dibuka pada tahun ini.

"Pembukaan dokumen-dokumen ini akan membantu para arkheologis dan sejarahwan untuk mengevaluasi teori-teori tentang evolusi manusia dan membantu kita untuk lebih memahami budaya 'mound builder' di Amerika dan di seluruh dunia," kata Direktur AIAA Hans Guttenberg.

"Akhirnya, setelah lebih dari seabad kebohongan, kebenaran tentang para pendahulu manusia-manusia raksasa itu akan terbuka di hadapan dunia," tambahnya lagi.(ca)